Duh,…siapa yang tidak kenal dengan chatting?? Rasanya hampir sebagian besar umat manusia diatas muka bumi ini mengenal chatting dengan baik,…bahkan amat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.Sarana yang satu ini memang sangat bermanfaat sekali bagi mereka yang jauh dari keluarga,handai taulan,teman atau saudara dan yang lainnya.
Enak mengobrol di sini karena selain murah juga praktis ditambah teknologi sekarang yang bisa memuat suara kita didalamnya sekaligus webcamnya maka jadilah berkomunikasi jarak jauh ini nyaris sempurna.Orang jadi lebih suka memilih teknologi ini dibandingkan dengan komunikasi lewat telpon karena biayanya yang tidak murah selain itu Penelpon tidak bebas ngobrol karena teringat biaya pulsa yang bisa aja membengkak!!Akan tetapi tahukah anda bahwa dibalik itu semua bagi mereka yang tidak pandai menggunakannya bisa terfitnah dengannya,..terfitnah dengan chatting kok bisa?? Ya…bisa bahkan ada salah satu akhwat muslimah tertinah dengan chatting ini,..sampai ia harus bercerai dengan suaminya gara-gara chatting ini,…kisah nyata yang perlu kita baca untuk diambil ibrahnya
Kisah ini terjadi di Lebanon berdasarkan apa yang saya dengar lewat kajian bersama ustadz di majelis ilmu syar’i…ustadz menguraikan kisah ini agar bisa menjadi perhatian bagi muslimah disini (Sydney) agar mereka berhati-hati terhadap chatting ini dan tidak melayani sapaan dari laki-laki yang suka iseng menggoda lewat chatting ini…
Beliau adalah seorang wanita muslimah yang alhamdulillah Allah karuniakan kepadanya seorang suami yang baik akhlak dan budi pekertinya.Dirumah iapun memilki komputer sebagaimana keluarga muslim lainnya dimana komputer bukan lagi merupakan barang mewah di Lebanon.Sang suami pun mengajari bagaimana menggunakan fasilitas ini yang akhirnya beliaupun mahir bermain internet.Yang akhirnya iapun mahir pula chatting dengan kawan-kawanya sesama muslimah.
Awalnya ia hanya chatting dengan rekannya sesama muslimah,…hingga pada suatu hari ia disapa oleh seorang laki-laki yang mengaku sama-sama tinggal dikota beliau.Terkesan dengan gaya tulisannya yang enak dibaca dan terkesan ramah..sang muslimah yang telah bersuami ini akhirnya tergoda pada lelaki tersebut.
Bila sang suami sibuk bekerja untuk mengisi kekosongan waktunya beliau akhirnya menghabiskan waktu bersama dengan lelaki itu lewat chatting ,…sampai sang suami menegurnya setiba dari kerja mengapa ia tetap sibuk diinternet.Sang istripun membalas bahwa ia merasa bosan karena suaminya selalu sibuk bekerja dan ia merasa kesepian,… ia merahasiakan dengan siapa ia chatting ..khawatir bila suaminya tahu maka ia akan dilarang main internet lagi….sungguh ia telah kecanduan berchatting ria dengan lekai tersebut.
Fitnahpun semakin terjadi didalam hatinya,..ia melihat sosok suaminya sungguh jauh berbeda dengan lelaki tersebut, enak diajak berkomunikasi, senang bercanda..dan sejuta keindahan lainnya dimana setan telah mengukir begitu indah didalam lubuk hatinya,..
Duhai fitnah asmara semakin membara,…ketika ia chatting lagi sang laki-laki itupun tambah menggodanya,..ia pun ingin bertemu empat mata dengannya..Gembiralah hatinya,..iapun memenuhi keinginan lelaki tersebut untuk berjumpa.Jadilah mereka berjumpa dalam sebuah restoran,..lewat pembiacaran via darat mereka jadi lebih akrab.Dari pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya….
Hingga akhirnya si lelaki tersebut telah berhasil menawan hatinya,..sang suami yang menasehati agar ia tidak lama-lama main internet tidak digubrisnya..Akhirnya suami wanita ini menjual komputer tersebut karena kesal nasehatnya tidak di dengar,…lalu apa yang terjadi ?? Langkah itu (menjual komputer) membuat marah sang istri yang akhirnya iapun meminta cerai dari suaminya.Sungguh ia masih teringat percakapan manis dengan laki-laki terse but yang menyatakan bahwa ia sangatlah mencintai dirinya, dan ia berjanji akan menikahinya apabila ia bercerai dari suaminya.
Sang suami yang sangat mencintai istrinya tersebut tentu saja menolak keputusan cerai itu,..karena terus didesak sang istri akhirnya iapun dengan berat hati menceraikan istrinya.Sungguh betapa hebatnya fitnah lelaki itu.Singkatnya setelah ia selesai cerai dengan suaminya iapun menemui lelaki tersebut dan memberitahukan kabar gembira tentang statusnya sekarang yang telah menjadi janda.Lalu apakah si lelaki itu mau menikahinya sebagaimana janjinya???
Ya,..ukhti muslimah dengarlah penuturan kisah tragis ini,…dengan tegasnya silelaki itu berkata “Tidak!! Aku tidak mau menikahimu! Aku hanya mengujimu sejauh mana engkau mencintai suamimu,ternyata engkau Hanyalah seorang wanita yang tidak setia kepada suami.Dan, aku takut bila aku menikahimu nantinya engkau tidak akan setia Kapadaku! Bukan ,..bukan..wanita sepertimu yang aku cari, aku mendambakan seorang istri yang setia dan taat kepada suaminya..!” Lalu ia pun berdiri meninggalkan wanita ini,..sang wanita dengan isak tangis yang tidak tertahan inipun akhirnya menemui ustadz tadi dan menceritakan Kisahnya….iapun merasa malu untuk meminta rujuk kembali dengan suaminya yang dulu…mengingat betapa buruknya dia melayani suaminya dan telah menjadi istri yang tidak setia.
Sungguh kisah diatas patut untuk direnungkan bersama semoga kita semua ukhti muslimah tidak terfitnah dengan sarana ini (chatting ini),..dan agar lebih waspada serta hati-hati…bila ada yang ingin menggodamu maka acuhkan saja,…selain karena resikonya yang tinggi (kita tidak tahu siapa dia)mungkin ia hanya ingin meluangkan waktu senggangnya dengan menggoda anda…Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita.Dan, penulis berdo'a semoga peristiwa diatas tidak menimpa muslimah lainnya.amien ya rabb.
Sumber: thetrueideas.multiply.com
Selasa, 23 November 2010
Kamis, 16 September 2010
Selasa, 20 Juli 2010
Rahasia Sukses Tarbiyah
Apa yang menjadi rahasia kesuksesan tarbiyah?
Yang pertama dan paling utama, adalah istiqamah. Yang menghiasi jiwa para murobbi dan mad’u atau mutarobbi dalam melewati putaran roda da’wah adalah istiqamah dalam hidayah, istiqamah dalam keikhlasan, istiqamah dalam kesabaran. Inilah hal terberat bagi setiap da’i dan bahkan nabi. Ayat yang membuat nabiyullah Muhammad SAW beruban rambutnya, adalah perintah untuk istiqamah. "Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…" (Qs. Hud: 112).
Dan inti dari istiqamah adalah kesabaran.
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru RabbNya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Qs. Al-Kahfi: 28).
Dalam perjalanan panjang da’wah dan tarbiyah ini, istiqamah dibangun melalui tarbiyah imaniyah yang terus-menerus, baik secara jama’i (bersama) maupun dzati (mandiri). Liqo tarbawi sangat dipenuhi dengan suasana ruhiyah dan peribadahan, dan berbagai aktifitas jama’i untuk peningkatan sensitivitas ruhiyyah dan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dilakukan secara periodik dan konsisten. Kemudian, ditopang oleh suasana saling menasehati dalam kebenaran, dalam kesabaran dan dalam kasih sayang.
Rahasia sukses kedua adalah disiplin dalam tanggung jawab (indibath bil-mas’uliyah). Pada masa-masa lalu kita akan menemukan seorang mutarobbi yang sangat menyesal dan memiliki rasa bersalah yang dalam, ketika datang terlambat ke liqo. Atau ketika ia udzur (berhalangan), esok harinya ia sibuk mendatangi saudaranya yang lain hanya untuk menyalin materi yang diberikan. Juga begitu banyak para Murabbi yang meninggalkan berbagai urusan pribadi dan keluarganya, karena ia harus mengisi liqo yang secara rutin dilakukan.
"Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya." (Qs. At-Taubah: 24).
Membolos bagi seorang murabbi, sepertinya melemparkan sebuah amanah sebesar gunung Uhud.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (Qs. Al-Anfal: 27).
Bila kita menemukan ada Mutarabbi yang punya ongkos pas-pasan untuk hadir dalam liqo atau halaqah, tidak sedikit kita temukan, Murabbi yang harus pulang berjalan kaki – karena tidak tersisa lagi uang satu sen pun. Bukan karena para Mutarabbi tidak membantu, tetapi bahkan sang Murabbi tidak pernah menampilkan wajah dirinya sedang mengalami kesulitan di hadapan para mutarabbinya.
"… orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena (mereka) memelihara diri dari meminta-minta…" (Qs. Al-Baqarah: 272).
Tanggungjawab yang berangkat dari kesadaran akan amanah da’wah ini, menjadi tradisi yang diwariskan para Murabbi kepada mutarabbinya. Nyatanya, semakin mereka disiplin pada tanggung jawab da’wah dan tarbiyah, semakin Allah memudahkan semua urusan mereka. Dan bahkan, seringkali Allah menganugerahkan jalan keluar yang tidak disangka-sangka atas berbagai kesulitan yang dihadapi.
"Dan bersabarlah, karena Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang orang yang berbuat kebaikan." (Qs. Huud: 115).
Rahasia ketiga, adalah kemenyeluruhan dalam peran tarbiyah (at-takamuliyah fi daur at-tarbawi). Seorang Murabbi atau Murabbiyah – ketika mentarbiyah mutarabbinya – tidak hanya memerankan diri sebagai seorang guru (muwajjih) yang menyampaikan ilmu-ilmu Islam. Tetapi pada saat bersamaan, ia menjadi seorang syaikh/ustadz dalam memelihara dan meningkatkan ruhiyah dan ma’nawiyah mutarabbinya. Ketika menghadapi masalah-masalah yang dialami sang mutarabbi, ia menjadi bapak atau ibu (walid) bagi mutarabbinya. Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, ia membimbing sang anak untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya. Memuji keberhasilannya dan memotivasi untuk bangkit dari kegagalannya. Ketika berada di medan da’wah dan amal jama’i, ia berperan sebagai pemimpin yang ikhlas, bijak dan juga tegas. Ia tahu kapan harus berdiskusi dan kapan harus memeberikan instruksi. Ia buka ruang partisipasi dan syura (musyawarah) untuk menghasilkan yang terbaik. Ia senantiasa mengambil keputusan setelah memohon taufiq dan hidayah dari Allah Swt. Dan ketika ia sedang rihlah (jalan-jalan/tamasya) atau dalam suasana santai dengan para mutarabbinya, ia menjadi teman bicara dan bermain yang mengasyikkan. Kemenyeluruhan peran-peran tarbiyah inilah yang telah menghasilkan kader-kader terbaik dari kalangan sahabat-sahabat Rasul Saw (as-sabiqunal awalun) dan juga generasi berikutnya. Dengan ini, setiap mad’u atau Mutarabbi merasa nyaman dalam rumah tarbiyah mereka, memiliki semangat penerimaan (ruhul-istijabah) yang kuat terhadap segala arahan dan bimbingan dari sang Murabbi tercinta. Sehingga, sebentar saja ada di rumah tarbiyah, mereka mengalami perubahan kepribadian yang cepat (qabil lit-taghyir) dan selanjutnya mereka keluar dari rumah tarbiyah sebagai penyeru perubahan ke arah kebaikan.
Demikianlah, liqo/halaqoh tarbiyah menjadi sarana efektif untuk membangkitkan kesadaran umat dan membalikkan orientasi hidup mereka. Halaqah ammah (umum) dan halaqah khashshah (khusus/liqo) menghiasi malam-malam dan siang, di mana ribuan spidol menuliskan kalimat-kalimat Islam di atas whiteboard setiap harinya. Sebuah irama yang terus bergema tak pernah henti. Persis ungkapan nabi Nuh as:
"Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menda’wahi kaumku malam dan siang." (Qs. Nuh: 5).
Saat-saat liqo tarbawi merupakan yang paling dirindukan. Rasa haus akan ilmu, kerinduan bertemu sesama ikhwan atau akhwat, berbagi masalah dan pengalaman dengan sang Murabbi atau murabbiyah, dan pulang kembali ke rumah dengan dada yang penuh dengan keindahan iman dan kesempurnaan tawakal kepada Allah Swt. Enam hari berikutnya, adalah hari-hari da’wah dan tarbiyah. Sang Mutarabbi pada sisa enam hari berikutnya menjelma sebagai Murabbi dan da’i bagi umat. Ilmu dan pemahaman yang didapatkan dalam liqo tarbawi kemarin, telah menjadi tema berbagai liqa’at tarbawi pada keesokan harinya. Merekalah sosok-sosok Rabbaniyyun.
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani. Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Qs. Ali Imran: 79).
Tidak ada keraguan sedikit pun untuk menyampaikan ilmu Islam kepada mad’u (obyek da’wah). Meski usia mereka muda, bukan lulusan pesantren dan sebagian besar belum menguasai bahasa Arab, namun ada "izzah" (keyakinan dan kebanggaan) akan fikrah Islam yang mereka miliki. Ada "hamasah" (semangat menggelora) untuk mengamalkan Islam dan menyerukannya kepada orang lain. Dan ada "ghirah" (kecemburuan dan semangat pembelaan) terhadap Islam yang diabaikan oleh ummatnya sendiri. Inilah tiga unsur yang menghiasi militansi tarbiyah dan da’wah mereka pada tingkat individu. Izzah, hamasah dan ghirah Islamiyah. Ketiga hal ini tidak lahir kecuali dari mata air keimanan yang jernih, lautan pemahaman yang luas dan gelombang keikhlasan yang tidak pernah surut. Militansi individu semakin diperkokoh dengan semangat keterikatan (ruhul-irtibath) antar anggota dalam sebuah halaqah, semangat persaudaraan (ruhul-ukhuwah) yang terpancar dari cahaya wajah-wajah yang mudah saling mengenali, walaupun belum pernah berjumpa sebelumnya. Serta semangat kerjasama (ruhul amal-jama’i) untuk menopang berbagai tanggungjawab dan beban da’wah melalui semangat saling memberi dan berkorban. Semua ini menjadikan himpunan mereka sebagai bangunan yang kokoh dan saling menopang (al-bunyan al-marshush).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur rapi, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh". (Qs. As-Shaf: 4).
Wallahu’alam bishowab
@ dari buku Tarbiyah Menjawab Tantangan
Yang pertama dan paling utama, adalah istiqamah. Yang menghiasi jiwa para murobbi dan mad’u atau mutarobbi dalam melewati putaran roda da’wah adalah istiqamah dalam hidayah, istiqamah dalam keikhlasan, istiqamah dalam kesabaran. Inilah hal terberat bagi setiap da’i dan bahkan nabi. Ayat yang membuat nabiyullah Muhammad SAW beruban rambutnya, adalah perintah untuk istiqamah. "Maka istiqamahlah (kamu) sebagaimana yang Aku perintahkan…" (Qs. Hud: 112).
Dan inti dari istiqamah adalah kesabaran.
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru RabbNya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keridhaanNya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Qs. Al-Kahfi: 28).
Dalam perjalanan panjang da’wah dan tarbiyah ini, istiqamah dibangun melalui tarbiyah imaniyah yang terus-menerus, baik secara jama’i (bersama) maupun dzati (mandiri). Liqo tarbawi sangat dipenuhi dengan suasana ruhiyah dan peribadahan, dan berbagai aktifitas jama’i untuk peningkatan sensitivitas ruhiyyah dan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) dilakukan secara periodik dan konsisten. Kemudian, ditopang oleh suasana saling menasehati dalam kebenaran, dalam kesabaran dan dalam kasih sayang.
Rahasia sukses kedua adalah disiplin dalam tanggung jawab (indibath bil-mas’uliyah). Pada masa-masa lalu kita akan menemukan seorang mutarobbi yang sangat menyesal dan memiliki rasa bersalah yang dalam, ketika datang terlambat ke liqo. Atau ketika ia udzur (berhalangan), esok harinya ia sibuk mendatangi saudaranya yang lain hanya untuk menyalin materi yang diberikan. Juga begitu banyak para Murabbi yang meninggalkan berbagai urusan pribadi dan keluarganya, karena ia harus mengisi liqo yang secara rutin dilakukan.
"Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya." (Qs. At-Taubah: 24).
Membolos bagi seorang murabbi, sepertinya melemparkan sebuah amanah sebesar gunung Uhud.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (Qs. Al-Anfal: 27).
Bila kita menemukan ada Mutarabbi yang punya ongkos pas-pasan untuk hadir dalam liqo atau halaqah, tidak sedikit kita temukan, Murabbi yang harus pulang berjalan kaki – karena tidak tersisa lagi uang satu sen pun. Bukan karena para Mutarabbi tidak membantu, tetapi bahkan sang Murabbi tidak pernah menampilkan wajah dirinya sedang mengalami kesulitan di hadapan para mutarabbinya.
"… orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena (mereka) memelihara diri dari meminta-minta…" (Qs. Al-Baqarah: 272).
Tanggungjawab yang berangkat dari kesadaran akan amanah da’wah ini, menjadi tradisi yang diwariskan para Murabbi kepada mutarabbinya. Nyatanya, semakin mereka disiplin pada tanggung jawab da’wah dan tarbiyah, semakin Allah memudahkan semua urusan mereka. Dan bahkan, seringkali Allah menganugerahkan jalan keluar yang tidak disangka-sangka atas berbagai kesulitan yang dihadapi.
"Dan bersabarlah, karena Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang orang yang berbuat kebaikan." (Qs. Huud: 115).
Rahasia ketiga, adalah kemenyeluruhan dalam peran tarbiyah (at-takamuliyah fi daur at-tarbawi). Seorang Murabbi atau Murabbiyah – ketika mentarbiyah mutarabbinya – tidak hanya memerankan diri sebagai seorang guru (muwajjih) yang menyampaikan ilmu-ilmu Islam. Tetapi pada saat bersamaan, ia menjadi seorang syaikh/ustadz dalam memelihara dan meningkatkan ruhiyah dan ma’nawiyah mutarabbinya. Ketika menghadapi masalah-masalah yang dialami sang mutarabbi, ia menjadi bapak atau ibu (walid) bagi mutarabbinya. Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, ia membimbing sang anak untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalannya. Memuji keberhasilannya dan memotivasi untuk bangkit dari kegagalannya. Ketika berada di medan da’wah dan amal jama’i, ia berperan sebagai pemimpin yang ikhlas, bijak dan juga tegas. Ia tahu kapan harus berdiskusi dan kapan harus memeberikan instruksi. Ia buka ruang partisipasi dan syura (musyawarah) untuk menghasilkan yang terbaik. Ia senantiasa mengambil keputusan setelah memohon taufiq dan hidayah dari Allah Swt. Dan ketika ia sedang rihlah (jalan-jalan/tamasya) atau dalam suasana santai dengan para mutarabbinya, ia menjadi teman bicara dan bermain yang mengasyikkan. Kemenyeluruhan peran-peran tarbiyah inilah yang telah menghasilkan kader-kader terbaik dari kalangan sahabat-sahabat Rasul Saw (as-sabiqunal awalun) dan juga generasi berikutnya. Dengan ini, setiap mad’u atau Mutarabbi merasa nyaman dalam rumah tarbiyah mereka, memiliki semangat penerimaan (ruhul-istijabah) yang kuat terhadap segala arahan dan bimbingan dari sang Murabbi tercinta. Sehingga, sebentar saja ada di rumah tarbiyah, mereka mengalami perubahan kepribadian yang cepat (qabil lit-taghyir) dan selanjutnya mereka keluar dari rumah tarbiyah sebagai penyeru perubahan ke arah kebaikan.
Demikianlah, liqo/halaqoh tarbiyah menjadi sarana efektif untuk membangkitkan kesadaran umat dan membalikkan orientasi hidup mereka. Halaqah ammah (umum) dan halaqah khashshah (khusus/liqo) menghiasi malam-malam dan siang, di mana ribuan spidol menuliskan kalimat-kalimat Islam di atas whiteboard setiap harinya. Sebuah irama yang terus bergema tak pernah henti. Persis ungkapan nabi Nuh as:
"Ya Rabbi, sesungguhnya aku telah menda’wahi kaumku malam dan siang." (Qs. Nuh: 5).
Saat-saat liqo tarbawi merupakan yang paling dirindukan. Rasa haus akan ilmu, kerinduan bertemu sesama ikhwan atau akhwat, berbagi masalah dan pengalaman dengan sang Murabbi atau murabbiyah, dan pulang kembali ke rumah dengan dada yang penuh dengan keindahan iman dan kesempurnaan tawakal kepada Allah Swt. Enam hari berikutnya, adalah hari-hari da’wah dan tarbiyah. Sang Mutarabbi pada sisa enam hari berikutnya menjelma sebagai Murabbi dan da’i bagi umat. Ilmu dan pemahaman yang didapatkan dalam liqo tarbawi kemarin, telah menjadi tema berbagai liqa’at tarbawi pada keesokan harinya. Merekalah sosok-sosok Rabbaniyyun.
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani. Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (Qs. Ali Imran: 79).
Tidak ada keraguan sedikit pun untuk menyampaikan ilmu Islam kepada mad’u (obyek da’wah). Meski usia mereka muda, bukan lulusan pesantren dan sebagian besar belum menguasai bahasa Arab, namun ada "izzah" (keyakinan dan kebanggaan) akan fikrah Islam yang mereka miliki. Ada "hamasah" (semangat menggelora) untuk mengamalkan Islam dan menyerukannya kepada orang lain. Dan ada "ghirah" (kecemburuan dan semangat pembelaan) terhadap Islam yang diabaikan oleh ummatnya sendiri. Inilah tiga unsur yang menghiasi militansi tarbiyah dan da’wah mereka pada tingkat individu. Izzah, hamasah dan ghirah Islamiyah. Ketiga hal ini tidak lahir kecuali dari mata air keimanan yang jernih, lautan pemahaman yang luas dan gelombang keikhlasan yang tidak pernah surut. Militansi individu semakin diperkokoh dengan semangat keterikatan (ruhul-irtibath) antar anggota dalam sebuah halaqah, semangat persaudaraan (ruhul-ukhuwah) yang terpancar dari cahaya wajah-wajah yang mudah saling mengenali, walaupun belum pernah berjumpa sebelumnya. Serta semangat kerjasama (ruhul amal-jama’i) untuk menopang berbagai tanggungjawab dan beban da’wah melalui semangat saling memberi dan berkorban. Semua ini menjadikan himpunan mereka sebagai bangunan yang kokoh dan saling menopang (al-bunyan al-marshush).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur rapi, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh". (Qs. As-Shaf: 4).
Wallahu’alam bishowab
@ dari buku Tarbiyah Menjawab Tantangan
Islam
JAKARTA--Masyarakat Swiss terbelah. Penyebabnya, usulan pelarangan menara masjid di negeri pembuat jam tangan itu. Masyarakat Swiss harus memutuskan sikapnya melalui referendum yang kemudian dimenangkan oleh kelompok pengusung ide anti Islam tersebut.
Usulan yang kontroversial itu datang dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Dan Daniel Streich merupakan politikus SVP yang paling getol mengkampanyekan usulan tersebut. Bahkan, dia termasuk orang pertama yang melontarkan larangan menara dan kubah Masjid di negaranya. Lebih ekstrim lagi, dia pun dikabarkan memiliki ide untuk menutup semua masjid di Swiss.
Dalam banyak kesempatan, Streich kerap melontarkan pernyataan yang menyudutkan Islam. Tanpa memandang persamaan hak, dia mencemooh dan bahkan menebar benih-benih kebencian terhadap Islam. Bisa dikatakan, seluruh perjuangannya di SVP dicurahkan untuk melawan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Hingga puncaknya, saat referendum tiba, masyarakat Swiss pun menyetujui usulan pelarangan menara masjid itu.
SVP bisa dibilang sukses menggolkan idenya. Namun, perjalanan seseorang memang tak bisa diterka. Streich yang awalnya begitu membenci Islam, tiba-tiba dikabarkan telah menjadi penganut Islam. Kabar itu datang di awal tahun ini. Kontan, deklarasi masuk Islam yang disampaikan politikus itu pun menggegerkan partai dan rakyat Swiss.
Bagaimana bisa seseorang seperti Streich dalam waktu singkat seperti berubah 180 derajat dan menjadi Muslim? Rupanya, di masa-masa kampanye untuk menentang berdirinya menara masjid di negaranya, bahkan jauh sebelum itu, dia sedikit demi sedikit mendapatkan hidayah yang mungkin dengan cara yang tak disadarinya. Awalnya, dia coba memahami ajaran Islam dengan mempelajari Alquran.
Streich perlu mengetahui Islam agar dapat berargumentasi dengan kalangan Muslim mengenai berbagai hal tentang keimanan, terutama ide-ide partainya yang menginginkan pelarangan menara Masjid. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Melalui cara itu, justru dia diperkenalkan dengan ajaran Islam yang suci. Dia kian memahami Islam dan kemudian mengakui bahwa alquran memberikan ajaran yang benar.
''Islam menawarkan saya jawaban logis untuk pertanyaan-pertanyaan hidup yang penting, yang pada akhirnya tidak pernah aku temukan dalam agama Kristen,'' kata Streich yang terlahir sebagai penganut Kristiani.
Usai mendapatkan hidayah, Streich mendeklarasikan dirinya telah pindah agama dan menyatakan keluar dari SVP. Setelah memeluk agama barunya ini, dia telah jauh berubah. Kini dia dikenal sebagai sosok yang sangat berkomitmen terhadap Islam, rajin membaca alquran, dan sholat lima waktu.
Bahkan, Streich bercita-cita ingin membangun sebuah masjid yang terindah di Eropa di negaranya. Di Swiss kini telah berdiri empat masjid dan dia ingin menambah satu lagi.
Usulan yang kontroversial itu datang dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Dan Daniel Streich merupakan politikus SVP yang paling getol mengkampanyekan usulan tersebut. Bahkan, dia termasuk orang pertama yang melontarkan larangan menara dan kubah Masjid di negaranya. Lebih ekstrim lagi, dia pun dikabarkan memiliki ide untuk menutup semua masjid di Swiss.
Dalam banyak kesempatan, Streich kerap melontarkan pernyataan yang menyudutkan Islam. Tanpa memandang persamaan hak, dia mencemooh dan bahkan menebar benih-benih kebencian terhadap Islam. Bisa dikatakan, seluruh perjuangannya di SVP dicurahkan untuk melawan agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Hingga puncaknya, saat referendum tiba, masyarakat Swiss pun menyetujui usulan pelarangan menara masjid itu.
SVP bisa dibilang sukses menggolkan idenya. Namun, perjalanan seseorang memang tak bisa diterka. Streich yang awalnya begitu membenci Islam, tiba-tiba dikabarkan telah menjadi penganut Islam. Kabar itu datang di awal tahun ini. Kontan, deklarasi masuk Islam yang disampaikan politikus itu pun menggegerkan partai dan rakyat Swiss.
Bagaimana bisa seseorang seperti Streich dalam waktu singkat seperti berubah 180 derajat dan menjadi Muslim? Rupanya, di masa-masa kampanye untuk menentang berdirinya menara masjid di negaranya, bahkan jauh sebelum itu, dia sedikit demi sedikit mendapatkan hidayah yang mungkin dengan cara yang tak disadarinya. Awalnya, dia coba memahami ajaran Islam dengan mempelajari Alquran.
Streich perlu mengetahui Islam agar dapat berargumentasi dengan kalangan Muslim mengenai berbagai hal tentang keimanan, terutama ide-ide partainya yang menginginkan pelarangan menara Masjid. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Melalui cara itu, justru dia diperkenalkan dengan ajaran Islam yang suci. Dia kian memahami Islam dan kemudian mengakui bahwa alquran memberikan ajaran yang benar.
''Islam menawarkan saya jawaban logis untuk pertanyaan-pertanyaan hidup yang penting, yang pada akhirnya tidak pernah aku temukan dalam agama Kristen,'' kata Streich yang terlahir sebagai penganut Kristiani.
Usai mendapatkan hidayah, Streich mendeklarasikan dirinya telah pindah agama dan menyatakan keluar dari SVP. Setelah memeluk agama barunya ini, dia telah jauh berubah. Kini dia dikenal sebagai sosok yang sangat berkomitmen terhadap Islam, rajin membaca alquran, dan sholat lima waktu.
Bahkan, Streich bercita-cita ingin membangun sebuah masjid yang terindah di Eropa di negaranya. Di Swiss kini telah berdiri empat masjid dan dia ingin menambah satu lagi.
Rabu, 09 Juni 2010
Untuk cita cita mulia
Seandainya kita mampu seperti Air,
Semangat bergerak atas titah tuhannya
mula gunung pangrango menuju jakarta, sampai laut jawa
Berirama mengalir berkelok-kelok
menembuskan keheningan hari, membentur batu
terus hingga suaranya menggemakan suara,
menginspirasi kehidupan
, memcahkan kepenatan
.
pertanda tulus, pertanda ikhlas patuh sebagai makhluk tuhannya
memberi guna pada semesta
“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(TQS. Az-Zumar [39]: 21 )
Seandaianya kita mampu seperti Angin
Ikhlas memberi pada kehidupan
mata tak dapat melihat
rasa terindra
mengusir panas dan menghempas sepi.
Bergerak dan mengerakan,
pada mereka yang bisu.
pada mereka yang kosong.
menelisik hati terdalam
memnghancurkan paksa kehampaaan
Angin Tegar sebagai makhluk tuhannya
Memberi guna pada semesta
Wahai abdi yang hidupnya sempuna bersama akal
Sendainya kita menjadi ??
adakah kita mampu ??
” Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya,
sedang dia menyaksikannya.”
(TQS. Qaaf [50]: 37)
Pertanyaan itu sepatutnya menggugah pikir lebih dalam. Pada apa yang telah kita janjikan, pada apa yang telah dan sedang kita tunaikan. Saat ini. Sebagai abdi yang telah mengindera diri. Membawa jiwa pada tiap raga yang lemah.
Wahai Allah, Dzat yang menguasai kehidupan kami..
Dzat yang telah membuat skenario indah setiap anak manusia
Hiasilah jiwa kami dengan syukur dan ikhlas untuk-Mu
Sebagai abdi, yang kokoh tulus mengabdi..
Meneguhkan agama-Mu, Menjemput Ridlo-Mu.
Untuk cita-cita mulia
Untuk akhir yang indah
Amiin..
(terinpirasi dari artikel dakwahkampus.com
Semangat bergerak atas titah tuhannya
mula gunung pangrango menuju jakarta, sampai laut jawa
Berirama mengalir berkelok-kelok
menembuskan keheningan hari, membentur batu
terus hingga suaranya menggemakan suara,
menginspirasi kehidupan
, memcahkan kepenatan
.
pertanda tulus, pertanda ikhlas patuh sebagai makhluk tuhannya
memberi guna pada semesta
“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(TQS. Az-Zumar [39]: 21 )
Seandaianya kita mampu seperti Angin
Ikhlas memberi pada kehidupan
mata tak dapat melihat
rasa terindra
mengusir panas dan menghempas sepi.
Bergerak dan mengerakan,
pada mereka yang bisu.
pada mereka yang kosong.
menelisik hati terdalam
memnghancurkan paksa kehampaaan
Angin Tegar sebagai makhluk tuhannya
Memberi guna pada semesta
Wahai abdi yang hidupnya sempuna bersama akal
Sendainya kita menjadi ??
adakah kita mampu ??
” Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya,
sedang dia menyaksikannya.”
(TQS. Qaaf [50]: 37)
Pertanyaan itu sepatutnya menggugah pikir lebih dalam. Pada apa yang telah kita janjikan, pada apa yang telah dan sedang kita tunaikan. Saat ini. Sebagai abdi yang telah mengindera diri. Membawa jiwa pada tiap raga yang lemah.
Wahai Allah, Dzat yang menguasai kehidupan kami..
Dzat yang telah membuat skenario indah setiap anak manusia
Hiasilah jiwa kami dengan syukur dan ikhlas untuk-Mu
Sebagai abdi, yang kokoh tulus mengabdi..
Meneguhkan agama-Mu, Menjemput Ridlo-Mu.
Untuk cita-cita mulia
Untuk akhir yang indah
Amiin..
(terinpirasi dari artikel dakwahkampus.com
Jumat, 04 Juni 2010
TIDAK ADA YANG BENAR-BENAR BISA MEMAHAMI
Tidak pernah ada satupun yang pernah benar-benar mengerti tentang seorang perempuan atau wanita.
Tentang hati yang terdapat pada organ tubuhnya..
Tidak ada satupun yang bisa mengerti tentang cara berfikir wanita,cara yang seringkali tak pernah bisa dicapai dengan logika tercanggih sekalipun.
Tak ada yang bisa benar-benar mengerti tentang hati seorang wanita berkata,berfikir,dan bersikap.
Tidak ada yang pernah mengerti tentang kemauan yang sebenarnya dalam benak seorang wanita.
utamanya tentang bagaimana hatinya dalam mencintai sesuatu selain dirinya.
Sesuatu itu bisa berwujud manusia,impian,cita-cita,keinginan,harta,pangkat,keluarga,bahkan sesuatu yang sama sekali belum pernah dilihatnya.
Tentang ia mencintai sesuatu; Impian atau Cita-cita.
Tidak ada yang pernah mengalahkan impian seorang wanita jika ia sudah bercita-cita.Ia mampu berfikir lebih jauh dari seorang laki-laki tervisioner sekalipun.Saat pertama kali janin anaknya menetap dalam rahimnya.Impian atau cita-cita itu ia tetapkan dalam doa’ rutinnya tiap kali ia mengusap perutnya yang kian hari kian membuncit “Nak,kelak Kau akan menjadi seorang Pemimpin”, “ Nak,kelak Kau akan gantikan Ulama-ulama itu menyampaikan ajaran agamamu “, “Nak,kelak Kau akan menghadiahi bunda dengan sebuah mahkota hafalan Al-Qur’anmu”,”Nak,Kelak kau akan menjadi Negarawan Muslim,membebaskan masyarakat dari degradasi moral yang kian hari makin tidak menentu “, “ Nak,kelak kau akan mewarisi sifat-sifat perjuangan ayahmu” …Dan begitu banyak impian,cita-cita seorang wanita saat mengandung calon bayinya,Impian yang tak pernah bisa dibatasi oleh apapun dan kapanpun ia mengusap kandungannya.Karena ia sangat yakin dengan janji langit.
Tentang ia mencintai sesuatu ; Harta
Seorang wanita akan mampu mencintai harta dalam dua kondisi yang sangat bertolak belakang.Jika Ia bergelimangan harta,maka perasaan cintanya akan terus ada bersama dengan keinginannya untuk selalu menimbun,menyimpan dan berfikir keras bagaimana agar mendapatkan kembali jumlah harta yang lebih berlipat ganda.Ia bisa menguasai segala yang ada dilingkungannya agar tunduk pada kecintaanya pada harta.Namun Ajaib,Ia juga bisa bertahan dalam kondisi paling paceklik sekalipun.Ia mampu menyimpan kecintaannya pada harta,memendamnya dan memberikannya pada anaknya,demi kelangsungan hidup si anak.Bahkan untuk kelangsungan hidup suaminya,Ia mampu menahan kecintaanya,agar hartanya digunakan oleh orang lain,digunakan untuk kelangsungan dakwah.Kecintaannya pada harta melahirkan pengorbanan yang tidak sia-sia.Kecintaanya sama namun bisa bertahan dalam dua kondisi yang sangat bertolak belakang.
Tentang ia mencintai sesuatu ; Laki-laki.
Ini adalah bagian dimana tak ada siapapun yang bisa menebak,memahami,mengerti,dan menyelami hati seorang wanita ketika ia mencintai seorang laki-laki.Kecintaanya pada laki-laki bisa bertahan dalam kondisi apapun ! Senang,susah,terhimpit,bahagia,terpisah,tersatukan,atau bahkan ketika diduakan.Satu waktu ia bisa mencintai laki-laki yang berbeda status darinya,miskin atau kaya.
Ia juga bisa mencintai laki-laki yang tak sepadan dengannya,tidak tampan atau terlalu tampan.
Ia bisa mencintai seorang laki-laki yang dibenci oleh semua orang.Ia bisa mencintai seorang laki-laki lain ,meski ia sudah mendapatkan suami,mendapatkan anak.
Kecintaanya pada laki-laki bisa membuatnya berkhianat,mengubah apa yang ada dalam hatinya untuk bersikap lain.
Tapi kecintaanya pada laki-laki juga bisa membuatnya berkorban sepenuh jiwa,raga dan hartanya.
Iapun masih bisa mencintai laki-laki yang tak bisa dimiliknya,.
Kecintaanya pada laki-laki tak dapat ditebak,ia bisa menjadikan nya makin kuat dan teguh pendirian,tapi dalam kondisi lain,kecintaanya pada laki-laki bisa membuatnya membunuh dari belakang.
Terkadang juga menjadikannya pribadi yang tegar,atau sebaliknya,rapuh.
Ia bahkan bisa mengatakan cinta pada seorang laki-laki namun dalam hatinya ia mencintai laki-laki lain.
.Ia bisa berbagi cintanya dengan wanita lain pada satu laki-laki.
Sungguh,,,kedalaman hatinya tak kan mampu di dideteksi oleh apapun.
Tentang seorang wanita…
Tak pernah ada yang bisa mengerti ketika air matanya jatuh berlinangan,Sedihkah ia,sakitkah ia,marahkah ia atau bahagiakah ia..
Tak pernah ada yang bisa mengerti ketika ia tersenyum simpul
Tak pernah ada yang bisa mengendalikan hatinya secara penuh
Tak pernah ada yang bisa mengalahkan semangatnya ketika ia akan berjuang
Tak penah ada yang bisa mengalahkan tingginya impiannya saat ia sedang mengandung generasi penerusnya
Tak pernah ada yang bisa menandingi kesabarannya saat ia mendidik seluruh anaknya
Tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayangnya dalam mencari sesuap nasi untuk orang yang dicintainya
Tidak ada yang bisa menyaingi dalam dan luas hatinya dalam mencintai seorang laki-laki
Tidak ada yang bisa menyaingi kecerdasannya saat ia mengkalkulasikan sisa umur hidupnya
Tidak ada yang bisa mencegah keinginan kuatnya saat ia benar-benar menginginkan sesuatu..
Tak ada yang bisa menyaingi ketangguhan dan kesabarannya saat ia menyiapkan suaminya atau putranya untuk menjadi pejuang.
Dari sanalah,,,
Wanita mampu menjadi pejuang sejati
( Seperti Khodijah yang pertama kali beriman sebelum kaum laki-laki mengimani Rasul
,Seperti Asma’ Binti Abu Bakar berkata tentang harta yang ditinggalkan oleh ayahnya kepada kakeknya
Seperti Fathimah Binti Rasulullah yang memendam cintanya kepada Ali Bin Abi Thalib,menolak pembantu yang disodorkan oleh ayahnya dan menjadi wanita yang memangku Manusia teragung pada detik-detik terakhirnya
Seperti juga Asiyah yang mampu berkata lantang tentang keimanannya pada manusia terkeji yang mengaku tuhan
Seperti juga Bunda Maryam yang mampu bertahan melahirkan sosok nabi mulia Isa AS di bawah pohon kurma kering dalam kondisi tuduhan hina yang tak berhenti
Seperti juga Bunda Hajar yang mampu melepas kepergian sang suami tercinta dan mencari seteguk air untuk putra nya Ismail AS hingga ia harus berlari menhampiri dua bukit sebanyak tujuh kali
Atau seperti Ummul Mukminin Aisyah RA yang mampu mewarisi kecerdasan Rasul sebagai wanita terbanyak dalam merowikan Hadits Rasululllah..
Dan begitu banyak wanita-wanita lain yang tercatat dalam epic sejarah sebagai pejuang sejati ).
Karena dari cinta merekalah,lahir berjuta pahlawan-pahlawan Islam sejati yang cemerlang.
Sungguh,Kekuatan yang sama sekali tak bisa diremehkan.
15-05-2010
NB :hanya sebuah catatan kecil hasil pengamatan dan pengalaman
http://salam.ui.ac.id/node/138
Tentang hati yang terdapat pada organ tubuhnya..
Tidak ada satupun yang bisa mengerti tentang cara berfikir wanita,cara yang seringkali tak pernah bisa dicapai dengan logika tercanggih sekalipun.
Tak ada yang bisa benar-benar mengerti tentang hati seorang wanita berkata,berfikir,dan bersikap.
Tidak ada yang pernah mengerti tentang kemauan yang sebenarnya dalam benak seorang wanita.
utamanya tentang bagaimana hatinya dalam mencintai sesuatu selain dirinya.
Sesuatu itu bisa berwujud manusia,impian,cita-cita,keinginan,harta,pangkat,keluarga,bahkan sesuatu yang sama sekali belum pernah dilihatnya.
Tentang ia mencintai sesuatu; Impian atau Cita-cita.
Tidak ada yang pernah mengalahkan impian seorang wanita jika ia sudah bercita-cita.Ia mampu berfikir lebih jauh dari seorang laki-laki tervisioner sekalipun.Saat pertama kali janin anaknya menetap dalam rahimnya.Impian atau cita-cita itu ia tetapkan dalam doa’ rutinnya tiap kali ia mengusap perutnya yang kian hari kian membuncit “Nak,kelak Kau akan menjadi seorang Pemimpin”, “ Nak,kelak Kau akan gantikan Ulama-ulama itu menyampaikan ajaran agamamu “, “Nak,kelak Kau akan menghadiahi bunda dengan sebuah mahkota hafalan Al-Qur’anmu”,”Nak,Kelak kau akan menjadi Negarawan Muslim,membebaskan masyarakat dari degradasi moral yang kian hari makin tidak menentu “, “ Nak,kelak kau akan mewarisi sifat-sifat perjuangan ayahmu” …Dan begitu banyak impian,cita-cita seorang wanita saat mengandung calon bayinya,Impian yang tak pernah bisa dibatasi oleh apapun dan kapanpun ia mengusap kandungannya.Karena ia sangat yakin dengan janji langit.
Tentang ia mencintai sesuatu ; Harta
Seorang wanita akan mampu mencintai harta dalam dua kondisi yang sangat bertolak belakang.Jika Ia bergelimangan harta,maka perasaan cintanya akan terus ada bersama dengan keinginannya untuk selalu menimbun,menyimpan dan berfikir keras bagaimana agar mendapatkan kembali jumlah harta yang lebih berlipat ganda.Ia bisa menguasai segala yang ada dilingkungannya agar tunduk pada kecintaanya pada harta.Namun Ajaib,Ia juga bisa bertahan dalam kondisi paling paceklik sekalipun.Ia mampu menyimpan kecintaannya pada harta,memendamnya dan memberikannya pada anaknya,demi kelangsungan hidup si anak.Bahkan untuk kelangsungan hidup suaminya,Ia mampu menahan kecintaanya,agar hartanya digunakan oleh orang lain,digunakan untuk kelangsungan dakwah.Kecintaannya pada harta melahirkan pengorbanan yang tidak sia-sia.Kecintaanya sama namun bisa bertahan dalam dua kondisi yang sangat bertolak belakang.
Tentang ia mencintai sesuatu ; Laki-laki.
Ini adalah bagian dimana tak ada siapapun yang bisa menebak,memahami,mengerti,dan menyelami hati seorang wanita ketika ia mencintai seorang laki-laki.Kecintaanya pada laki-laki bisa bertahan dalam kondisi apapun ! Senang,susah,terhimpit,bahagia,terpisah,tersatukan,atau bahkan ketika diduakan.Satu waktu ia bisa mencintai laki-laki yang berbeda status darinya,miskin atau kaya.
Ia juga bisa mencintai laki-laki yang tak sepadan dengannya,tidak tampan atau terlalu tampan.
Ia bisa mencintai seorang laki-laki yang dibenci oleh semua orang.Ia bisa mencintai seorang laki-laki lain ,meski ia sudah mendapatkan suami,mendapatkan anak.
Kecintaanya pada laki-laki bisa membuatnya berkhianat,mengubah apa yang ada dalam hatinya untuk bersikap lain.
Tapi kecintaanya pada laki-laki juga bisa membuatnya berkorban sepenuh jiwa,raga dan hartanya.
Iapun masih bisa mencintai laki-laki yang tak bisa dimiliknya,.
Kecintaanya pada laki-laki tak dapat ditebak,ia bisa menjadikan nya makin kuat dan teguh pendirian,tapi dalam kondisi lain,kecintaanya pada laki-laki bisa membuatnya membunuh dari belakang.
Terkadang juga menjadikannya pribadi yang tegar,atau sebaliknya,rapuh.
Ia bahkan bisa mengatakan cinta pada seorang laki-laki namun dalam hatinya ia mencintai laki-laki lain.
.Ia bisa berbagi cintanya dengan wanita lain pada satu laki-laki.
Sungguh,,,kedalaman hatinya tak kan mampu di dideteksi oleh apapun.
Tentang seorang wanita…
Tak pernah ada yang bisa mengerti ketika air matanya jatuh berlinangan,Sedihkah ia,sakitkah ia,marahkah ia atau bahagiakah ia..
Tak pernah ada yang bisa mengerti ketika ia tersenyum simpul
Tak pernah ada yang bisa mengendalikan hatinya secara penuh
Tak pernah ada yang bisa mengalahkan semangatnya ketika ia akan berjuang
Tak penah ada yang bisa mengalahkan tingginya impiannya saat ia sedang mengandung generasi penerusnya
Tak pernah ada yang bisa menandingi kesabarannya saat ia mendidik seluruh anaknya
Tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayangnya dalam mencari sesuap nasi untuk orang yang dicintainya
Tidak ada yang bisa menyaingi dalam dan luas hatinya dalam mencintai seorang laki-laki
Tidak ada yang bisa menyaingi kecerdasannya saat ia mengkalkulasikan sisa umur hidupnya
Tidak ada yang bisa mencegah keinginan kuatnya saat ia benar-benar menginginkan sesuatu..
Tak ada yang bisa menyaingi ketangguhan dan kesabarannya saat ia menyiapkan suaminya atau putranya untuk menjadi pejuang.
Dari sanalah,,,
Wanita mampu menjadi pejuang sejati
( Seperti Khodijah yang pertama kali beriman sebelum kaum laki-laki mengimani Rasul
,Seperti Asma’ Binti Abu Bakar berkata tentang harta yang ditinggalkan oleh ayahnya kepada kakeknya
Seperti Fathimah Binti Rasulullah yang memendam cintanya kepada Ali Bin Abi Thalib,menolak pembantu yang disodorkan oleh ayahnya dan menjadi wanita yang memangku Manusia teragung pada detik-detik terakhirnya
Seperti juga Asiyah yang mampu berkata lantang tentang keimanannya pada manusia terkeji yang mengaku tuhan
Seperti juga Bunda Maryam yang mampu bertahan melahirkan sosok nabi mulia Isa AS di bawah pohon kurma kering dalam kondisi tuduhan hina yang tak berhenti
Seperti juga Bunda Hajar yang mampu melepas kepergian sang suami tercinta dan mencari seteguk air untuk putra nya Ismail AS hingga ia harus berlari menhampiri dua bukit sebanyak tujuh kali
Atau seperti Ummul Mukminin Aisyah RA yang mampu mewarisi kecerdasan Rasul sebagai wanita terbanyak dalam merowikan Hadits Rasululllah..
Dan begitu banyak wanita-wanita lain yang tercatat dalam epic sejarah sebagai pejuang sejati ).
Karena dari cinta merekalah,lahir berjuta pahlawan-pahlawan Islam sejati yang cemerlang.
Sungguh,Kekuatan yang sama sekali tak bisa diremehkan.
15-05-2010
NB :hanya sebuah catatan kecil hasil pengamatan dan pengalaman
http://salam.ui.ac.id/node/138
Senin, 05 April 2010
PRIORITAS STUDI DAN PERENCANAAN PADA URUSAN DUNIA
KALAU kita pernah mengatakan tentang pentingnya ilmu atas amal dalam berbagai urusan agama, maka kita sekarang ini menegaskan mengenai pentingnya ilmu dalam urusan-urusan dunia. Kita hidup sekarang ini pada zaman yang segala sesuatu didasarkan atas ilmu pengetahuan. Pada zaman kita sekarang ini sudah tidak lagi menerima hal-hal yang tidak teratur dan mengawur dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia. Semua pekerjaan yang baik mesti didahului dengan studi kelayakan terlebih dahulu, dan harus dipastikan menghasilkan sesuatu yang memuaskan sebelum pekerjaan itu dimulai. Oleh karena itu, mesti ada perencanaan sebelum melakukannya, dan harus diperhitungkan secara matematis dan dilakukan berbagai penelitian sebelum pekerjaan itu dilakukan. Dalam buku dan kajian-kajian yang lain saya pernah menyebutkan: "Sesungguhnya penelitian, perencanaan, dan studi kelayakan sebelum kerja dilaksanakan merupakan etos kerja yang telah ada pada Islam. Rasulullah saw adalah orang yang pertama kali melakukan perhitungan secara statistik terhadap orang-orang yang beriman kepadanya setelah dia berhijrah ke Madinah al-Munawwarah. Dan kesan dari perencanaan itu begitu terasa pada perjalanan hidup beliau dalam berbagai bentuknya. Seharusnya orang yang paling dahulu melakukan perencanaan hari esok mereka ialah para aktivis gerakan Islam, sehingga merekatidak membiarkan semua urusan mereka berjalan tanpa perencanaan; tanpa memanfaatkan pengalaman di masa yang lalu; tanpa mencermati realitas yang terjadi pada hari ini; tanpa menimbang benar dan salahnya ijtihad yang pernah dilakukan; tanpa menilai untung-ruginya perjalanan umat kemarin dan hari ini; tanpa memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh umat, baik yang berbentuk material maupun spiritual, yang tampak dan yang tidak tampak, yang produktif dan yang tidak produktif. Perencanaan yang mereka buat itu mesti memperhatikan sumber kekuatan dan titik-titik kelemahan yang dimiliki oleh umat kita dan musuh-musuh kita; kemudian siapakah sebenarnya musuh kita yang hakiki? Siapakah musuh kita yang abadi dan musuh yang insidental? Siapakah di antara mereka yang mungkin dapat kita manfaatkan dan siapa yang tidak dapat dimanfaatkan? Siapa yang dapat kita ajak berdiskusi dan siapa yang tidak? Semua musuh harus kita pandang secara berbeda, karena pada hakikatnya mereka juga berbeda-beda. Semua persoalan di atas tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu pengetahuan dan kajian yang objektif, yang sama sekali
tidak emosional, bebas dari pelbagai pengaruh individual, lingkungan dan waktu sejauh yang dapat dilakukan oleh manusia; karena sesungguhnya kebebasan yang bersifat mutlak hampir dapat dikatakan mustahil.
Catatan Kaki:
20 Baca buku kami ar-Rasul wal-'Ilm, cet. Mu'assasah
ar-Risalah, Beirut dan Darus-Shahwah Islamiyyah.
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
BZero : 6.30 AM
tidak emosional, bebas dari pelbagai pengaruh individual, lingkungan dan waktu sejauh yang dapat dilakukan oleh manusia; karena sesungguhnya kebebasan yang bersifat mutlak hampir dapat dikatakan mustahil.
Catatan Kaki:
20 Baca buku kami ar-Rasul wal-'Ilm, cet. Mu'assasah
ar-Risalah, Beirut dan Darus-Shahwah Islamiyyah.
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah
Dr. Yusuf Al Qardhawy
BZero : 6.30 AM
Langganan:
Postingan (Atom)

